LESINDO.COM – Ilmu pengetahuan menemukan maknanya bukan semata pada kecanggihan rumus, kecepatan data, atau kecerdasan algoritma, melainkan pada kepekaan hati yang menyertainya. Di sanalah ilmu berhenti menjadi sekadar alat, dan mulai menjelma menjadi laku kemanusiaan. Tanpa rasa empati, tanpa kesadaran akan sesama, kecerdasan hanya bergerak secara mekanis—dingin, efisien, namun hampa arah. Ia bisa mengantar manusia pada kemajuan, tetapi juga tanpa ragu menyeretnya ke jurang kehancuran yang sama.
Sejarah telah berkali-kali memberi pelajaran. Banyak pencapaian besar lahir dari akal yang tajam, tetapi tak sedikit pula tragedi kemanusiaan tumbuh dari ilmu yang tercerabut dari nurani. Senjata diciptakan dengan presisi tinggi, sistem ekonomi dibangun dengan logika rasional, teknologi dikembangkan dengan tujuan efisiensi—namun ketika semua itu dilepaskan dari kepekaan hati, manusia berubah menjadi angka, statistik, dan objek eksperimen. Di titik itu, ilmu kehilangan wajahnya sebagai jalan pencerahan.
Dalam pandangan kebijaksanaan Jawa, ilmu bukan sekadar ngerti, tetapi juga ngrasa dan nglakoni. Mengetahui tanpa merasakan hanya melahirkan kepandaian yang kering. Merasa tanpa bertindak hanya menjadi keprihatinan yang pasif. Maka, keseimbangan menjadi kunci: akal mengarahkan, hati menimbang, dan tindakan menjadi wujud tanggung jawab. Hati yang hidup menjaga agar ilmu tidak menjelma menjadi kekuatan yang membutakan nurani—pinter nanging ora bener, cerdas tetapi kehilangan kebijaksanaan.
Kepekaan hati itulah yang melahirkan tanggung jawab moral. Ia membuat manusia berhenti sejenak sebelum bertindak, menimbang dampak sebelum menghitung keuntungan, dan memikirkan nasib sesama sebelum merayakan keberhasilan pribadi. Di tengah zaman yang memuja capaian dan produktivitas, suara hati kerap dianggap penghambat. Padahal justru di sanalah kemajuan diuji: bukan seberapa cepat kita melangkah, tetapi ke mana dan untuk siapa kita melangkah.
Kemajuan sejati adalah perjumpaan antara akal yang tajam dan hati yang lembut. Akal memberi kemampuan untuk membaca dunia, sementara hati mengajarkan cara memperlakukan dunia dengan hormat. Ketika keduanya berjalan seiring, ilmu menjadi jalan pembebasan—membuka akses keadilan, memperluas kesempatan hidup, dan memuliakan martabat manusia. Sebaliknya, ketika akal berjalan sendirian, ia mudah tergelincir menjadi alat dominasi, penguasaan, bahkan penindasan yang dibungkus atas nama kemajuan.
Di tengah derasnya arus teknologi dan kompetisi global, pertanyaan paling mendasar tetap sama: untuk apa ilmu ini dikembangkan? Jika jawabannya hanya berhenti pada pertumbuhan, efisiensi, dan kemenangan, maka kita sedang membangun masa depan yang rapuh. Tetapi jika ilmu diarahkan untuk merawat kehidupan, mengurangi penderitaan, dan menjaga keseimbangan alam serta sesama, maka kecerdasan menemukan arah yang memuliakan.
Pada akhirnya, peradaban tidak diukur dari setinggi apa manusia melompat dengan akalnya, melainkan dari sejauh mana ia tetap menjejak bumi dengan hatinya. Ilmu yang disertai kepekaan hati tidak hanya membuat manusia menjadi pintar, tetapi juga menjadi manusia seutuhnya—yang tahu, yang peduli, dan yang bertanggung jawab atas setiap langkah kemajuan yang ia pilih. (Urg)

