spot_img
BerandaBudayaSatu Kata, Dua Bahasa: Spiritualitas Jawa dan Psikologi Modern

Satu Kata, Dua Bahasa: Spiritualitas Jawa dan Psikologi Modern

Hari ini, kita hidup di zaman kata berlimpah. Ucapan menjadi cepat, reaktif, dan sering kali tidak ditopang oleh niat yang utuh. Psikologi menjelaskan dampaknya sebagai cognitive overload dan emotional fatigue. Spiritualitas Jawa akan menyebutnya sebagai batin yang bising, kehilangan pusat rasa.

Oleh Tilotama

LESINDO.COM – Orang Jawa lama tidak mengenal istilah psikologi, tetapi mereka paham betul kerja batin manusia. Mereka tidak menuliskannya dalam jurnal ilmiah, melainkan menanamkannya dalam laku hidup, tembang, sanepa, dan kisah-kisah seperti Empu Gandring. Apa yang hari ini disebut para psikolog sebagai mekanisme mental, dahulu dipahami sebagai olah rasa dan tata batin.

Di sinilah perbedaan—sekaligus irisan—antara spiritualitas Jawa dan psikologi modern menjadi menarik.

Bagi orang Jawa lama, ucapan adalah perpanjangan dari batin. Kata lahir bukan semata dari pikiran sadar, tetapi dari keseluruhan keadaan jiwa seseorang. Maka ucapan orang yang telah menempuh laku—puasa, tapa, pengendalian hawa nafsu—dianggap memiliki daya. Bukan karena ia “sakti” dalam arti magis semata, melainkan karena batinnya terfokus, tidak tercerai-berai.

Psikologi modern menyebut kondisi ini sebagai mental coherence atau integritas kognitif: ketika pikiran, emosi, dan niat berada pada satu arah yang selaras. Dalam keadaan seperti itu, sugesti—baik kepada diri sendiri maupun orang lain—menjadi sangat kuat. Orang Jawa menyebutnya manunggaling cipta, rasa, dan karsa.

Ketika Empu Gandring mengucapkan sumpahnya, ia berada dalam kondisi ekstrem: luka, kemarahan, pengkhianatan, dan kematian yang sudah di ambang batas. Dalam spiritualitas Jawa, momen-momen liminal seperti ini dipercaya membuka lapisan batin terdalam. Ucapan yang lahir di saat seperti itu dianggap berat, karena keluar dari inti rasa terdalam manusia.

Psikologi modern akan membacanya sebagai emosi intens dengan muatan traumatik tinggi. Kata-kata yang diucapkan dalam kondisi tersebut mudah melekat dalam ingatan kolektif, diwariskan dari generasi ke generasi, dan membentuk kerangka berpikir sosial. Inilah yang kemudian menciptakan self-fulfilling prophecy—ramalan yang menjadi nyata karena diyakini dan dihidupi.

Perbedaan paling mencolok terletak pada cara menjelaskan akibat.

Dalam spiritualitas Jawa, akibat dipahami sebagai hukum semesta: sapa nandur bakal ngundhuh—siapa menanam, akan menuai. Ucapan buruk, niat kotor, dan tindakan zalim diyakini meninggalkan jejak energetik yang kelak kembali pada pelakunya. Tidak selalu langsung, tetapi pasti.

Psikologi modern menyebutnya behavioral pattern dan intergenerational trauma. Kekerasan melahirkan kewaspadaan berlebihan, kecurigaan, dan pola relasi yang rusak. Anak-anak mewarisi ketakutan orang tuanya, bukan lewat darah semata, tetapi lewat pola asuh, cerita, dan sikap hidup. Yang dulu disebut “kutukan tujuh turunan”, hari ini bisa dijelaskan sebagai warisan trauma lintas generasi.

Namun ada satu titik temu yang nyaris identik: kekuatan fokus batin.

Orang Jawa lama menekankan laku prihatin sebelum berdoa atau bersumpah. Puasa bukan untuk menyiksa tubuh, melainkan untuk menenangkan pikiran. Diam bukan untuk menjauh dari dunia, tetapi untuk membersihkan batin dari kegaduhan. Dengan begitu, doa menjadi jernih dan ucapan tidak tercecer ke mana-mana.

Psikologi modern membuktikan hal serupa melalui meditasi, mindfulness, dan terapi kesadaran. Pikiran yang tenang menghasilkan keputusan yang lebih tepat. Kata-kata yang lahir dari kesadaran penuh memiliki dampak lebih besar—baik sebagai afirmasi penyembuhan maupun sebagai luka verbal.

Perbedaannya, orang zaman dulu lebih hemat kata. Mereka tahu, semakin sering ucapan dilepas tanpa kesadaran, semakin berkurang bobotnya. Janji dibuat dengan pertaruhan harga diri. Doa diucapkan dengan kesiapan menanggung konsekuensinya.

Hari ini, kita hidup di zaman kata berlimpah. Ucapan menjadi cepat, reaktif, dan sering kali tidak ditopang oleh niat yang utuh. Psikologi menjelaskan dampaknya sebagai cognitive overload dan emotional fatigue. Spiritualitas Jawa akan menyebutnya sebagai batin yang bising, kehilangan pusat rasa.

Kisah Empu Gandring, jika dibaca dengan kacamata ganda ini, bukanlah cerita tentang keris angker semata. Ia adalah pelajaran tentang ketidaksabaran, ambisi, dan kegagalan mengelola batin. Kutukan tidak datang dari luar, melainkan tumbuh dari dalam: dari kata yang lahir tanpa keluhuran dan tindakan yang tidak disertai tanggung jawab batin.

Pada akhirnya, spiritualitas Jawa dan psikologi modern sedang berbicara tentang hal yang sama dengan bahasa berbeda. Yang satu menyebutnya energi batin, yang lain menyebutnya mekanisme psikis. Yang satu menekankan laku, yang lain menekankan terapi. Namun keduanya sepakat pada satu hal: ucapan bukan perkara sepele.

Karena kata adalah pintu. Ia bisa menjadi doa yang menenangkan, atau luka yang diwariskan. Dan barangkali, di tengah dunia yang semakin riuh ini, kita perlu kembali belajar satu pelajaran lama yang terasa sederhana, tetapi kian langka: berani diam sebelum berbicara, dan menata batin sebelum berdoa.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments