spot_img
BerandaJelajahKetika Harga Diri Ditentukan oleh Like

Ketika Harga Diri Ditentukan oleh Like

Padahal, hidup yang autentik tak pernah menjanjikan tepuk tangan. Ia justru sering hadir bersama kesunyian. Menjadi diri sendiri berarti siap kehilangan sebagian orang, dan itu bukan kegagalan—melainkan seleksi alam batin. Tidak semua orang perlu diajak sepakat, tidak semua penolakan perlu dibalas perlawanan.

Oleh Ratih Arunika

Pada suatu masa, manusia hidup dengan bertanya pada dirinya sendiri: apa yang benar?
Kini pertanyaannya bergeser: apa yang disukai?

Kita hidup di zaman ketika nilai diri tak lagi lahir dari perenungan, melainkan dari reaksi. Bukan dari sunyi, tetapi dari sorak-sorai. Sebuah pendapat dianggap bernilai bukan karena jujur atau bernas, melainkan karena disambut tanda jempol dan komentar manis. Validasi menjadi mata uang baru—semakin banyak, semakin merasa hidup.

Tak sedikit orang yang mengatur napas hidupnya berdasarkan respons orang lain. Kalimat ditimbang bukan karena maknanya, tetapi karena potensi disukai. Sikap dipoles agar tak mengganggu, kebenaran dilunakkan supaya tak menyinggung. Dalam perlombaan ini, keaslian sering kalah cepat dari kepantasan sosial.

Ironisnya, mereka yang paling rajin menyenangkan orang lain justru sering kelelahan. Hidup menjadi panggung yang tak pernah tutup tirainya. Senyum harus selalu siap, bahkan saat hati sedang letih. Kita belajar satu hal dengan cepat: pujian memang menenangkan, tetapi ketergantungan padanya melumpuhkan. Sebab, ketika penolakan datang—dan ia selalu datang—batin tak punya tempat berlindung.

Hari ini dipuji sebagai sosok inspiratif, esok dicap berlebihan. Pagi dielu-elukan, malam dijadikan bahan ejekan. Opini manusia berubah secepat cuaca tropis: panas, hujan, lalu panas lagi tanpa permisi. Namun banyak dari kita tetap bersikeras menjadikan cuaca itu fondasi rumah batin. Tak heran jika hidup sering bocor di sana-sini.

Dalam situasi semacam itu, prinsip kerap menjadi barang mewah. Ia disimpan rapi, dikeluarkan hanya ketika aman. Selebihnya, hidup dijalani dengan kompromi-kompromi kecil yang lama-lama membentuk kebiasaan besar: menyesuaikan diri demi diterima. Bukan karena itu benar, melainkan karena takut sendirian.

Padahal, hidup yang autentik tak pernah menjanjikan tepuk tangan. Ia justru sering hadir bersama kesunyian. Menjadi diri sendiri berarti siap kehilangan sebagian orang, dan itu bukan kegagalan—melainkan seleksi alam batin. Tidak semua orang perlu diajak sepakat, tidak semua penolakan perlu dibalas perlawanan.

Mereka yang tampak tenang saat disalahpahami biasanya bukan orang yang kebal kritik, melainkan orang yang tak lagi menggantungkan harga dirinya pada pengakuan luar. Mereka tahu bahwa penilaian orang lain hanyalah tamu—datang, duduk sebentar, lalu pergi. Yang menetap hanyalah nurani.

Di akhir hari, hidup bukan soal berapa banyak yang menyukai kita, tetapi seberapa jujur kita menjalani diri sendiri. Sebab, ketika lampu panggung padam dan tepuk tangan berhenti, yang tersisa hanyalah satu pertanyaan sunyi: apakah aku hidup sebagai diriku, atau sekadar sebagai versi yang diharapkan orang lain?

Dan di sanalah, di ruang sunyi itu, keberanian sejati diuji.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments