spot_img
BerandaHumanioraTakātsur: Perlombaan yang Tak Pernah Selesai

Takātsur: Perlombaan yang Tak Pernah Selesai

Yang ironis, semua ini terjadi bukan di tengah kelaparan, melainkan di tengah kelimpahan. Bukan karena umat ini lemah, tetapi karena mereka lupa arah. Dunia terlalu dicintai, akhirat terlalu sering ditunda.

Oleh Yai Kampung

Ketika Dunia Menjadi Penyakit Tentang Umat yang Lupa Diri

Pagi itu, dunia tampak berjalan seperti biasa. Pasar ramai, gawai menyala sejak subuh, berita mengalir tanpa jeda. Tak ada tanda-tanda bencana. Tidak ada gempa, tidak ada perang. Namun, di balik wajah normal itu, ada penyakit lama yang diam-diam kambuh—penyakit yang pernah merobohkan umat-umat sebelum kita.

Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam pernah mengingatkan, umatnya kelak akan ditimpa penyakit yang sama. Bukan wabah yang menyerang tubuh, melainkan penyakit batin yang menggerogoti perlahan. Penyakit yang tidak mematikan seketika, tetapi menghancurkan dari dalam.

Penyakit itu bermula dari Al-Asyir, kufur nikmat.
Di sebuah kota yang lampunya tak pernah padam, manusia hidup dalam kelimpahan. Makan berlebih, tidur nyaman, akses ke mana-mana mudah. Namun, anehnya, rasa cukup menghilang. Keluhan terdengar lebih nyaring daripada syukur. Rezeki dianggap hak mutlak, bukan titipan. Nama Tuhan disebut, tetapi hanya di bibir. Nikmat tak lagi melahirkan sujud, melainkan tuntutan baru yang lebih besar.

Dari kufur nikmat, penyakit itu naik tingkat menjadi Al-Bathor—bersombong dengan nikmat.
Mobil bukan lagi alat transportasi, melainkan simbol martabat. Jabatan bukan lagi amanah, melainkan panggung kehormatan. Manusia mulai mengukur nilai sesama dari apa yang terlihat mata: rumah, gelar, kekuasaan. Yang berada di puncak bicara seolah paling benar, yang di bawah diminta diam dan tahu diri. Nikmat yang seharusnya mendekatkan manusia kepada kerendahan hati justru menjauhkan mereka dari kemanusiaan.

Tak lama kemudian, suasana berubah menjadi perlombaan. Inilah Takātsur.
Banyak-banyakan harta, banyak-banyakan pengaruh, banyak-banyakan pencitraan. Angka menjadi ukuran segalanya. Sedikit tak pernah cukup, banyak pun tetap terasa kurang. Dunia dipeluk erat, seolah hidup tak akan berakhir. Padahal, kuburan sunyi di pinggir kota menjadi saksi bisu: tak satu pun dari perlombaan itu ikut terkubur bersama pemiliknya.

Dari perlombaan, lahirlah permusuhan.
Teman berubah menjadi saingan. Saudara saling curiga. Ukhuwwah retak oleh urusan dunia yang fana. Prinsip digadaikan demi peluang. Agama kadang dijadikan slogan, namun keadilan ditinggalkan. Yang kuat menekan, yang lemah dipaksa menerima. Dunia bukan lagi alat, melainkan tujuan.

Penyakit itu mencapai titik paling berbahaya ketika dengki mulai menguasai hati.
Melihat orang lain bahagia terasa menyakitkan. Keberhasilan orang lain dianggap ancaman. Dari dengki lahir kezaliman: fitnah, manipulasi, penyingkiran. Dan ketika dengki dibiarkan tumbuh, ia bisa berubah menjadi kebrutalan—hingga darah pun halal ditumpahkan atas nama kepentingan dan pembenaran palsu.

Yang ironis, semua ini terjadi bukan di tengah kelaparan, melainkan di tengah kelimpahan.
Bukan karena umat ini lemah, tetapi karena mereka lupa arah. Dunia terlalu dicintai, akhirat terlalu sering ditunda.

Feature ini bukan sekadar catatan, melainkan cermin.
Bahwa kehancuran sebuah umat tidak selalu datang dengan dentuman meriam. Kadang ia hadir perlahan, lewat hati yang tak lagi mengenal syukur, lewat nikmat yang melahirkan kesombongan, lewat dunia yang dijadikan tujuan akhir.

Dan jika umat ini ingin sembuh, barangkali obatnya sederhana namun berat:
kembali belajar bersyukur, merendah, merasa cukup, dan berlaku adil—
sebelum penyakit lama itu kembali menutup seluruh denyut kehidupan.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments