LESINDO.COM – Tidak ada yang benar-benar pasti tentang awal waktu. Bahkan 1 Januari—tanggal yang kini diterima tanpa tanya—pernah menjadi perkara panjang dalam sejarah manusia. Ia lahir bukan dari kesepakatan sunyi, melainkan dari tarik-menarik kuasa, keyakinan, dan upaya manusia menertibkan semesta.
Pada mulanya, tahun tidak dimulai dari dingin musim dingin, melainkan dari gairah musim semi. Kalender Romawi Kuno membuka tahun pada bulan Maret, ketika tanah kembali lunak dan perang kembali dimulai. Waktu mengikuti irama alam dan kepentingan negara. Jejaknya masih tertinggal dalam nama-nama bulan: September, Oktober, November, Desember—angka-angka yang tersesat, tidak lagi berada di tempatnya.
Sekitar tujuh abad sebelum Masehi, Numa Pompilius, raja kedua Roma, menyelipkan dua bulan baru di ujung dan pangkal tahun. Januari ia letakkan di depan, mengambil nama Janus, dewa bermuka dua. Satu wajah menghadap masa lalu, satu lagi ke masa depan. Sebuah lambang yang sederhana, tetapi tajam: setiap awal selalu membawa beban yang lama.
Keputusan itu belum sepenuhnya mapan sampai Julius Caesar turun tangan. Tahun 46 sebelum Masehi menjadi tahun yang kacau—445 hari panjangnya—demi menyelaraskan kalender dengan peredaran matahari. Negara memaksa waktu agar patuh. Sejak itu, 1 Januari berdiri sebagai awal resmi, disahkan oleh kekuasaan dan hitungan astronomi.
Namun waktu tidak pernah sepenuhnya tunduk. Ketika Kekaisaran Romawi runtuh, gereja mengambil alih tafsir kalender. Januari dianggap terlalu dekat dengan jejak paganisme. Awal tahun dipindahkan ke tanggal-tanggal yang dianggap suci: 25 Maret, hari kabar kelahiran; atau 25 Desember, hari kelahiran itu sendiri. Tahun baru tidak dirayakan—ia didoakan.
Berabad-abad kemudian, kesalahan kecil dalam kalender Julian menumpuk. Sebelas menit per tahun cukup untuk menggeser musim dan hari raya. Pada 1582, Paus Gregorius XIII kembali membenahi waktu. Sepuluh hari dihapus begitu saja. Kalender Gregorian lahir, dan 1 Januari dikukuhkan kembali sebagai permulaan. Negara-negara Katolik segera mengikuti. Yang lain menyusul perlahan, seolah enggan mengejar waktu yang telah lebih dulu berlari.
Kini, 1 Januari datang setiap tahun dengan kepastian mekanis. Ia tidak lagi diperdebatkan. Tetapi di balik pesta dan hitung mundur, tersimpan jejak panjang tentang bagaimana manusia mencoba mengatur hari-harinya—dan, diam-diam, mengatur hidupnya sendiri.
Dalam kebudayaan Jawa, waktu tidak sekadar dihitung, melainkan dirasakan. Pergantian hari adalah saat untuk eling: mengingat yang telah lewat, tanpa larut; menatap yang akan datang, tanpa pongah. Barangkali di sanalah makna terdalam tahun baru: bukan pada tanggalnya, melainkan pada kesediaan manusia untuk berhenti sejenak dan bertanya ke dalam.
Sebab sejatinya, yang berganti bukanlah tahun. Yang diuji adalah cara manusia memulai lagi. (Hib)

